Senin, 21 Oktober 2013

Keperawatan Gerontik

PROSES PENUAAN PADA SYSTEM GASTROINTESTINAL


Kelompok VI
AGNES LOPO : 2110057
LISMAWATI : 2110065
ERNIANA PINA : 2110079
SUCIATI : 2110087
EKA PURNAMASARI : 2110102
BASO URI ATMAJAYA : 2110125

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2013

KATA PENGANTAR

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatu…
Puji syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena atas bimbingan dan petunjuk serta kemudahan yang diberikan-NYA, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik dan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.
Tugas ini kami susun dari hasil pencarian kami mengenai materi-materi yang bersangkutan dan tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak kepada pengajar mata kuliah atas bimbingan dan arahan dalam penulisan tugas ini. Juga kepada rekan-rekan yang telah membantu baik materi maupun moril sehingga tugas ini dapat terselesaikan.
Dengan adanya makalah ini, kami harapkan dapat berguna bagi para pembaca dan tidak lupa kritik dan saran dari pembaca kami harapkan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pendidik maupun peserta didik dimanapun berada.
Makassar, 12Oktober 2013
Penyusun

Kelompok VI


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Proses penuaan adalah suatu proses fisiologi umum yang sampai saat ini masih sulit untuk dipahami. Ditandai dengan adanya proses degenerasi sel dan sistem yang dibentuknya secara keseluruhan, perlahan tapi pasti. Proses menua berbeda pada setiap individu. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan, nutrisi, gaya hidup dan faktor lingkungan.

Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara – negara yang sudah maju, jumlah lansia rerlatif lebih besar dibanding dengan negara - negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia.

Di bidang gastroenterology, pada populasi usia lanjut sebenarnya tidak ada kelainan yang sangat khas. Walaupun terdapat perubahan sel dan structural seperti organ tubuh lainnya, fungsi system gastrointestinal pada umumnya dapat dipertahankan sebagaimana manusia sehat.
Gangguan fungsi biasanya terjadi apabila terdapat proses patologis pada organ tertentu, atau bilaman terjadi stress lain yang memperberat organ dari organ yang sudah mulai menurun fungsi dan anatomiknya. Mulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik, antara lain: atrophy pada mukosa, kelenjar dan otot pencernaan sehingga menyebabkan perubahan fungsional ataupun patologik (gangguan mengunyah, gangguan menelan, perubahan nafsu makan dan penyakit yang berhubungan dengan GIT).
Maka dari itu kelompok kami membahas secara spesifik tentang perubahan-perubahan proses penuaan khususnya pada sistem Gastrointestinal.

  1. Tujuan
  1. Mengetahui tentang proses penuaan pada sistem gastrointestinal.
  2. Mengetahui ganguan-gangguan sistem gastrointestinal pada lansia












BAB II
PEMBAHASAN

  1. Perubahan Proses Penuaan Pada Sistem Gastrointestinal

Banyak masalah gastrointestinal yang dihadapi oleh lansia berkaitan dengan gaya hidup. Mulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik degeneratif, antara lain perubahan atrofi pada rahang, mukosa, kelenjar dan otot-otot pencernaan.
Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem gastrointestinal akibat proses menua:
  1. Mulut

Bagian rongga mulut yang lazim terpengaruh adalah gigi, gusi, dan lidah. Kehilangan gigi penyebab utama adanya Periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. Indera pengecap menurun disebabkan adanya iritasi kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap di lidah terutama rasa manis dan asin, hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap tentang rasa asin, asam, dan pahit (Nugroho, 2008).




  1. Esofagus

Esophagus mengalami penurunan motilitas, sedikit dilatasi atau pelebaran seiring penuaan. Sfingter esophagus bagian bawah (kardiak) kehilangan tonus. Refleks muntah pada lansia akan melemah, kombinasi dari faktor-faktor ini meningkatkan resiko terjadinya aspirasi pada lansia (Luecknotte, 2000).

  1. Lambung

Terjadi atrofi mukosa. Atrofi dari sel kelenjar, sel parietal dan sel chief akan menyebabkan sekresi asam lambung, pepsin dan faktor intrinsik berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga daya tampung makanan menjadi berkurang. Proses perubahan protein menjadi peptone terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang rangsang lapar juga berkurang (Darmojo & Martono, 2006). Kesulitan dalam mencerna makanan adalah akibat dari atrofi mukosa lambung dan penurunan motalitas lambung. Atrofi mukosa lambung merupakan akibat dari penurunan sekresi asam hidrogen-klorik (hipoklorhidria), dengan pengurangan absorpsi zat besi, kalsium, dan vitamin B 12. Motilitas gaster biasanya menurun, dan melambatnya gerakan dari sebagian makanan yang dicerna keluar dari lambung dan terus melalui usus halus dan usus besar (Stanley, 2007).





  1. Usus halus

Mukosa usus halus juga mengalami atrofi, sehingga luas permukaan berkurang, sehingga jumlah vili berkurang dan sel epithelial berkurang. Di daerah duodenum enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan empedu juga menurun, sehingga metabolisme karbohidrat, protein, vitamin B12 dan lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda (Leueckenotte, 2000).

  1. Usus besar dan rektum

Pada lansia terjadi perubahan dalam usus besar termasuk penurunan sekresi mukus, elastisitas dinding rektum, peristaltic kolon yang melemah gagal mengosongkan rektum yang dapat menyebabkan konstipasi (Leueckenotte, 2000).
Pada usus besar kelokan-kelokan pembuluh darah meningkat sehingga motilitas kolon menjadi berkurang. Keadaan ini akan menyebabkan absorpsi air dan elektrolik meningkat (pada kolon sudah tidak terjadi absorpsi makanan), feses menjadi lebih keras, sehingga keluhan sulit buang air besar merupakan keluhan yang sering didapat pada lansia. Proses defekasi yang seharusnya dibantu oleh kontraksi dinding abdomen juga seringkali tidak efektif karena dinding abdomen sudah melemah . (Darmojo & Martono, 2006).

  1. Pankreas

Produksi enzim amilase, tripsin dan lipase akan menurun sehingga kapasitas metabolisme karbohidrat, protein dan lemak juga akan menurun. Pada lansia sering terjadi pankreatitis yang dihubungkan dengan batu empedu. Batu empedu yang menyumbat ampula Vateri akan menyebabkan oto-digesti parenkim pankreas oleh enzim elastase dan fosfolipase-A yang diaktifkan oleh tripsin dan/ atau asam empedu (Darmojo & Martono, 2006).


  1. Hati

Hati berfungsi sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Disamping juga memegang peranan besar dalam proses detoksikasi, sirkulasi, penyimpanan vitamin, konjugasi billirubin dan lain sebagainya. Dengan meningkatnya usia, secara histologik dan anatomik akan terjadi perubahan akibat atrofi sebagiab besar sel, berubah bentuk menjadi jaringan fibrous. Hal ini akan menyebabkan penurunan fungsi hati (Darmojo & Martono, 2006).
Proses penuaan telah mengubah proporsi lemak empedu tanpa perubahan metabolisme asam empedu yang signifikan. Faktor ini memengaruhi peningkatan sekresi kolesterol. Banyak perubahan-perubahan terkait usia terjadi dalam sistem empedu yang juga terjadi pada pasien-pasien yang obesitas (Stanley, 2007).


  1. Ganguan-Gangguan Sistem Gastrointestinal Pada Lansia

Berbeda dari usia muda, sistem kerja organ tubuh pada lansia mempunyai perbedaan serta penurunan fungsi. Terdapat berbagai jenis gangguan pencernaan pada lansia. Antara lain adalah sebagai berikut :
  1. Diare.

Pada kelompok lansia, sistem pertahanan tubuh mulai mengalami penurunan. Dapat disebabkan karena terjadinya sistem penurunan di berbagai proses metabolisme tubuh termasuk sintesis protein yang bekerja pada sistem imunitas, maupun penurunan efektivitas penyerapan air pada sistem cerna. Jika yang terjadi adalah penurunan kekebalan tubuh, diare yang menyerang lansia sangat dimungkinkan disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Namun jika penyerapan air yang terganggu, maka jenis makanan berperan penting di dalam kasus diare pada lansia ini.
  1. Maag.
Jenis gangguan pencernaan pada lansia lainnya adalah maag. Penyakit asam lambung ini banyak dialami. Lansia sering mengeluh lambung terasa sakit seperti ditusuk-tusuk., terkadang diiringi dengan mual dan muntah, kembung juga dirasakan oleh sebagian besar penderita maag di usia lanjut.
Keadaan dinding lambung pada lansia sudah relatif lebih tipis dibandingkan dengan dinding lambung pada usia yang lebih muda. Oleh karena itu, iritasi oleh akibat asam lambung berlebih lebih cepat menimbulkan terjadinya gastritis pada lansia.
  1. Usus melilit.
Gejala menyerupai kolik usus sering dirasakan oleh para lansia. Mereka biasa menyebut sebagai usus melilit. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah rasa perih disebabkan oleh terjadinya kontraksi pada intestinum yang tidak teratur.
Hal tersebut dapat muncul salah satunya akibat sistem hormonal yang sudah kurang bagus keteraturannya. Terkadang hormone stress seperti kortikosteroid tersekresi secara berlebih dan mengakibatkan adanya kontraksi usus halus yang kurang teratur. Terkadang rasa sakit ini disertai dengan keluhan lain seperti dada terasa sakit, jantung berdebar.

  1. Sembelit.
Sambelit juga menjadi salah satu jenis gangguan pencernaan pada lansia. Penyebab sembelit salah satunya adalah kurangnya keseimbangan pola konsumsi serat. Lansia sering tidak mudah di dalam mengkonsumsi sayuran dan buah. Mereka memiliki kecenderungan pola makan kembali menyerupai anak-anak, yaitu tidak suka sayuran.

Sangat penting untuk mengetahui ke empat jenis gangguan pencernaan pada lansia ini tentu agar dapat mengatasi dan mencegah terjadinya penyakit tersebut dengan baik. Kesehatan itu harta yang paling berharga yang wajib dijaga.











BAB III
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
Proses penuaan pada sistem gastrointestinal mengalami perubahan serta penurunan fungsi baik secara fisiologik maupun secara patologi yang mulai dari rongga mulut sampai pada rektum serta hati dan pankreas.

  1. SARAN
Demikianlah uraian singkat makalah tentang proses penuaan pada Sistem Gastrointestinal. Tulisan ini masih sangat terbatas dan memerlukan tambahan guna memperluas wawasan kita.











DAFTAR PUSTAKA


  1. Stanley, Mickey, and Patricia Gauntlett Beare.2006.Buku Ajar Keperawatan Gerontik, ed 2.Jakarta:EGC

  1. Miller, Carol A.1999.Nursing Care of Older Adults: Theory and Practice.Philadepia: Lippincott

  1. Toni Setiabudhi dan Hardiwinoto.1999.Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai Aspek.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama

  1. Dilman, Vladimir et. al. Theories Of Aging. http://www.antiaging-systems.com/ARTICLE-613/theories-of-aging.htm. Diaskes pada tanggal 15 Oktober 2010

  1. Tamher dan Noorkasiani.2009.Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika

  1. Dwi Lestari Muliyani.2009.Penuaan Pada Sistem Neurologis. http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/10/01/erfanfandyyahoo-com/. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2010