Keperawatan
Gerontik
“PROSES
PENUAAN PADA SYSTEM GASTROINTESTINAL”
Kelompok
VI
AGNES
LOPO : 2110057
LISMAWATI : 2110065
ERNIANA
PINA : 2110079
SUCIATI : 2110087
EKA
PURNAMASARI : 2110102
BASO URI
ATMAJAYA : 2110125
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
GEMA
INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2013
KATA
PENGANTAR
Assalaamu’alaikum
Warahmatullaahi Wabarakatu…
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena atas bimbingan dan
petunjuk serta kemudahan yang diberikan-NYA, kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dengan baik dan lancar tanpa ada hambatan yang
berarti.
Tugas ini kami susun dari
hasil pencarian kami mengenai materi-materi yang bersangkutan dan
tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak kepada pengajar mata kuliah
atas bimbingan dan arahan dalam penulisan tugas ini. Juga kepada
rekan-rekan yang telah membantu baik materi maupun moril sehingga
tugas ini dapat terselesaikan.
Dengan
adanya makalah ini, kami harapkan dapat berguna bagi para pembaca dan
tidak lupa kritik dan saran dari pembaca kami harapkan.
Akhir kata, semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi para pendidik maupun peserta didik
dimanapun berada.
Makassar, 12Oktober
2013
Penyusun
Kelompok
VI
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Proses penuaan
adalah suatu proses fisiologi umum yang sampai saat ini masih sulit
untuk dipahami. Ditandai dengan adanya proses degenerasi sel dan
sistem yang dibentuknya secara keseluruhan, perlahan tapi pasti.
Proses menua berbeda pada setiap individu. Perbedaan tersebut
dipengaruhi oleh faktor keturunan, nutrisi, gaya hidup dan faktor
lingkungan.
Setiap tahun
jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin
meningkatnya usia harapan hidup. Di negara – negara yang sudah
maju, jumlah lansia rerlatif lebih besar dibanding dengan negara -
negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan
fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan
menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia.
Di bidang
gastroenterology, pada populasi usia lanjut sebenarnya tidak ada
kelainan yang sangat khas. Walaupun terdapat perubahan sel dan
structural seperti organ tubuh lainnya, fungsi system
gastrointestinal pada umumnya dapat dipertahankan sebagaimana manusia
sehat.
Gangguan fungsi
biasanya terjadi apabila terdapat proses patologis pada organ
tertentu, atau bilaman terjadi stress lain yang memperberat organ
dari organ yang sudah mulai menurun fungsi dan anatomiknya. Mulai
dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik, antara lain:
atrophy pada mukosa, kelenjar dan otot pencernaan sehingga
menyebabkan perubahan fungsional ataupun patologik (gangguan
mengunyah, gangguan menelan, perubahan nafsu makan dan penyakit yang
berhubungan dengan GIT).
Maka dari itu
kelompok kami membahas secara spesifik tentang perubahan-perubahan
proses penuaan khususnya pada sistem Gastrointestinal.
- Tujuan
- Mengetahui tentang proses penuaan pada sistem gastrointestinal.
- Mengetahui ganguan-gangguan sistem gastrointestinal pada lansia
BAB
II
PEMBAHASAN
- Perubahan Proses Penuaan Pada Sistem Gastrointestinal
Banyak
masalah gastrointestinal yang dihadapi oleh lansia berkaitan dengan
gaya hidup. Mulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik
degeneratif, antara lain perubahan atrofi pada rahang, mukosa,
kelenjar dan otot-otot pencernaan.
Berikut
ini merupakan perubahan yang terjadi pada sistem gastrointestinal
akibat proses menua:
- Mulut
Bagian
rongga mulut yang lazim terpengaruh adalah gigi, gusi, dan lidah.
Kehilangan gigi penyebab utama adanya Periodontal disease yang biasa
terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi
yang buruk dan gizi yang buruk. Indera pengecap menurun disebabkan
adanya iritasi kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (±
80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap di lidah terutama
rasa manis dan asin, hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap
tentang rasa asin, asam, dan pahit (Nugroho, 2008).
- Esofagus
Esophagus
mengalami penurunan motilitas, sedikit dilatasi atau pelebaran
seiring penuaan. Sfingter esophagus bagian bawah (kardiak) kehilangan
tonus. Refleks muntah pada lansia akan melemah, kombinasi dari
faktor-faktor ini meningkatkan resiko terjadinya aspirasi pada lansia
(Luecknotte, 2000).
- Lambung
Terjadi
atrofi mukosa. Atrofi dari sel kelenjar, sel parietal dan sel chief
akan menyebabkan sekresi asam lambung, pepsin dan faktor intrinsik
berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga
daya tampung makanan menjadi berkurang. Proses perubahan protein
menjadi peptone terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang
rangsang lapar juga berkurang (Darmojo & Martono, 2006).
Kesulitan dalam mencerna makanan adalah akibat dari atrofi mukosa
lambung dan penurunan motalitas lambung. Atrofi mukosa lambung
merupakan akibat dari penurunan sekresi asam hidrogen-klorik
(hipoklorhidria), dengan pengurangan absorpsi zat besi, kalsium, dan
vitamin B 12. Motilitas gaster biasanya menurun, dan melambatnya
gerakan dari sebagian makanan yang dicerna keluar dari lambung dan
terus melalui usus halus dan usus besar (Stanley, 2007).
- Usus halus
Mukosa
usus halus juga mengalami atrofi, sehingga luas permukaan berkurang,
sehingga jumlah vili berkurang dan sel epithelial berkurang. Di
daerah duodenum enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan empedu juga
menurun, sehingga metabolisme karbohidrat, protein, vitamin B12 dan
lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda (Leueckenotte, 2000).
- Usus besar dan rektum
Pada
lansia terjadi perubahan dalam usus besar termasuk penurunan sekresi
mukus, elastisitas dinding rektum, peristaltic kolon yang melemah
gagal mengosongkan rektum yang dapat menyebabkan konstipasi
(Leueckenotte, 2000).
Pada
usus besar kelokan-kelokan pembuluh darah meningkat sehingga
motilitas kolon menjadi berkurang. Keadaan ini akan menyebabkan
absorpsi air dan elektrolik meningkat (pada kolon sudah tidak terjadi
absorpsi makanan), feses menjadi lebih keras, sehingga keluhan sulit
buang air besar merupakan keluhan yang sering didapat pada lansia.
Proses defekasi yang seharusnya dibantu oleh kontraksi dinding
abdomen juga seringkali tidak efektif karena dinding abdomen sudah
melemah . (Darmojo & Martono, 2006).
- Pankreas
Produksi
enzim amilase, tripsin dan lipase akan menurun sehingga kapasitas
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak juga akan menurun. Pada
lansia sering terjadi pankreatitis yang dihubungkan dengan batu
empedu. Batu empedu yang menyumbat ampula Vateri akan menyebabkan
oto-digesti parenkim pankreas oleh enzim elastase dan fosfolipase-A
yang diaktifkan oleh tripsin dan/ atau asam empedu (Darmojo &
Martono, 2006).
- Hati
Hati berfungsi
sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak. Disamping juga memegang peranan besar dalam proses
detoksikasi, sirkulasi, penyimpanan vitamin, konjugasi billirubin dan
lain sebagainya. Dengan meningkatnya usia, secara histologik dan
anatomik akan terjadi perubahan akibat atrofi sebagiab besar sel,
berubah bentuk menjadi jaringan fibrous. Hal ini akan menyebabkan
penurunan fungsi hati (Darmojo & Martono, 2006).
Proses penuaan
telah mengubah proporsi lemak empedu tanpa perubahan metabolisme asam
empedu yang signifikan. Faktor ini memengaruhi peningkatan sekresi
kolesterol. Banyak perubahan-perubahan terkait usia terjadi dalam
sistem empedu yang juga terjadi pada pasien-pasien yang obesitas
(Stanley, 2007).
- Ganguan-Gangguan Sistem Gastrointestinal Pada Lansia
Berbeda dari usia
muda, sistem kerja organ tubuh pada lansia mempunyai perbedaan serta
penurunan fungsi. Terdapat berbagai jenis gangguan pencernaan pada
lansia. Antara lain adalah sebagai berikut :
- Diare.
Pada kelompok
lansia, sistem pertahanan tubuh mulai mengalami penurunan. Dapat
disebabkan karena terjadinya sistem penurunan di berbagai proses
metabolisme tubuh termasuk sintesis protein yang bekerja pada sistem
imunitas, maupun penurunan efektivitas penyerapan air pada sistem
cerna. Jika yang terjadi adalah penurunan kekebalan tubuh, diare yang
menyerang lansia sangat dimungkinkan disebabkan oleh adanya infeksi
bakteri. Namun jika penyerapan air yang terganggu, maka jenis makanan
berperan penting di dalam kasus diare pada lansia ini.
- Maag.
Jenis gangguan
pencernaan pada lansia lainnya adalah maag. Penyakit asam lambung ini
banyak dialami. Lansia sering mengeluh lambung terasa sakit seperti
ditusuk-tusuk., terkadang diiringi dengan mual dan muntah, kembung
juga dirasakan oleh sebagian besar penderita maag di usia lanjut.
Keadaan dinding
lambung pada lansia sudah relatif lebih tipis dibandingkan dengan
dinding lambung pada usia yang lebih muda. Oleh karena itu, iritasi
oleh akibat asam lambung berlebih lebih cepat menimbulkan terjadinya
gastritis pada lansia.
- Usus melilit.
Gejala menyerupai
kolik usus sering dirasakan oleh para lansia. Mereka biasa menyebut
sebagai usus melilit. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah rasa
perih disebabkan oleh terjadinya kontraksi pada intestinum yang tidak
teratur.
Hal tersebut
dapat muncul salah satunya akibat sistem hormonal yang sudah kurang
bagus keteraturannya. Terkadang hormone stress seperti kortikosteroid
tersekresi secara berlebih dan mengakibatkan adanya kontraksi usus
halus yang kurang teratur. Terkadang rasa sakit ini disertai dengan
keluhan lain seperti dada terasa sakit, jantung berdebar.
- Sembelit.
Sambelit juga
menjadi salah satu jenis gangguan pencernaan pada lansia. Penyebab
sembelit salah satunya adalah kurangnya keseimbangan pola konsumsi
serat. Lansia sering tidak mudah di dalam mengkonsumsi sayuran dan
buah. Mereka memiliki kecenderungan pola makan kembali menyerupai
anak-anak, yaitu tidak suka sayuran.
Sangat penting
untuk mengetahui ke empat jenis gangguan pencernaan pada lansia ini
tentu agar dapat mengatasi dan mencegah terjadinya penyakit tersebut
dengan baik. Kesehatan itu harta yang paling berharga yang wajib
dijaga.
BAB
III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Proses penuaan
pada sistem gastrointestinal mengalami perubahan serta penurunan
fungsi baik secara fisiologik maupun secara patologi yang mulai dari
rongga mulut sampai pada rektum serta hati dan pankreas.
- SARAN
Demikianlah
uraian singkat makalah tentang
proses penuaan pada
Sistem Gastrointestinal.
Tulisan
ini masih sangat terbatas dan memerlukan tambahan guna memperluas
wawasan kita.
DAFTAR
PUSTAKA
- Stanley, Mickey, and Patricia Gauntlett Beare.2006.Buku Ajar Keperawatan Gerontik, ed 2.Jakarta:EGC
- Miller, Carol A.1999.Nursing Care of Older Adults: Theory and Practice.Philadepia: Lippincott
- Toni Setiabudhi dan Hardiwinoto.1999.Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai Aspek.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
- Dilman, Vladimir et. al. Theories Of Aging. http://www.antiaging-systems.com/ARTICLE-613/theories-of-aging.htm. Diaskes pada tanggal 15 Oktober 2010
- Tamher dan Noorkasiani.2009.Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika
- Dwi Lestari Muliyani.2009.Penuaan Pada Sistem Neurologis. http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/10/01/erfanfandyyahoo-com/. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar